Hutan Tatawiran Digunduli, Warga Koha Raya Menjerit: “Jangan Tunggu Bencana Baru Bertindak!”

MANADO, ABADIPOST.COM – Keresahan mendalam menyelimuti warga Koha Raya terkait aktivitas pembabatan hutan di wilayah Tatawiran. Penanganan dari dinas terkait dan lembaga lingkungan hidup dinilai lamban, sementara ancaman krisis air bersih menghantui ribuan jiwa, termasuk bayi dan balita.

‎Klarifikasi DLH Dinilai Salah Sasaran

‎Masyarakat Koha Raya mengecam pernyataan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam wawancara di RRI Manado baru-baru ini. DLH mengklaim telah turun ke lapangan dan berkoordinasi dengan warga, namun klaim tersebut dibantah keras.

‎”Pak, yang Anda temui di lokasi itu bukan masyarakat Koha Raya yang terdampak pencemaran air bersih, tapi masyarakat Desa Agotey yang tidak terdampak pembabatan hutan. Koordinasi Anda salah sasaran!” ujar salah satu perwakilan warga dengan nada kecewa.

‎Pertanyakan Taring WALHI

‎Kritik tajam juga dilayangkan kepada Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Warga mempertanyakan sikap WALHI yang terkesan pasif dan mengaku masih “menunggu” sebelum mengambil tindakan.

‎”Apa yang ditunggu? Harus ada bencana dulu baru turun? Benar kata penelpon di radio kemarin, apakah ‘gigi taring’ WALHI sudah dicabut sehingga tumpul melihat pengrusakan ini?” tegas warga.

‎Jeritan untuk Presiden Prabowo dan Wakil Rakyat

‎Kondisi di lapangan kian mendesak karena hutan Tatawiran merupakan sumber resapan air utama. Warga menuding ada keterlibatan oknum pengusaha yang juga mantan pejabat di balik aksi pembersihan lahan tersebut.

‎Dalam keputusasaannya, masyarakat melayangkan pesan terbuka kepada pimpinan negara:

  • ‎Kepada Presiden Prabowo Subianto: “Bapak Presiden, tolong kami rakyatmu. Hak kami sudah dirampas!”
  • ‎Kepada Anggota DPR/DPRD: “Apakah kalian sudah terlalu nyaman di kursi empuk hingga telinga kalian tuli mendengar jeritan masyarakat kecil? Jangan biarkan hak kami menikmati air bersih dirampas oleh oknum pengusaha!”

‎Urgensi Air Bersih bagi Balita

‎Masalah ini bukan sekadar urusan lingkungan, melainkan menyangkut hajat hidup orang banyak. Warga menekankan bahwa banyak anak bayi dan balita di Koha Raya yang sangat bergantung pada pasokan air bersih yang kini tercemar akibat penggundulan hutan.

‎Masyarakat menuntut aksi nyata dari pemerintah pusat maupun daerah sebelum kerusakan lingkungan di Tatawiran menjadi permanen dan menimbulkan bencana ekologis yang lebih besar yang mengakibatkan banyak korban.

‎Editor: Redaksi Abadipost.com

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *