UAS Bakal Dakwah di Kotamobagu, LSM Adat Waraney Puser In’Tana Tegaskan Tolak Narasi Intoleran

KOTAMOBAGU, abadipost.com – Menyikapi rencana kunjungan dan pelaksanaan dakwah oleh Ustaz Prof. H. Abdul Somad Batubara (UAS) di wilayah Kotamobagu, Dewan Pengurus Besar (DPB) LSM Adat Waraney Puser In’Tana Toar Lumimuut (WPITL) Sulawesi Utara secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap tertulis, Sabtu (23/5/2026).

​LSM Adat yang dikenal sebagai salah satu elemen penjaga kelestarian adat dan kedamaian di Bumi Nyiur Melambai ini menegaskan pentingnya menjaga kondusivitas, serta menolak keras segala bentuk narasi dakwah yang berpotensi memecah belah kerukunan umat beragama.

​Ketua Umum DPB LSM Adat Waraney Puser In’Tana, John F. S. Pandeirot, menyampaikan bahwa Sulawesi Utara, termasuk wilayah Bolaang Mongondow Raya (Kotamobagu), adalah tanah yang diberkati dengan keberagaman yang hidup berdampingan secara damai.

​”Kami memegang teguh prinsip hidup Sitou Timou Tumou Tou (manusia hidup untuk memanusiakan orang lain). Oleh karena itu, kami menyambut baik setiap syiar keagamaan yang membawa kesejukan, namun menolak keras segala bentuk narasi yang berpotensi mendiskreditkan keyakinan lain atau mengandung unsur intoleransi,” ujar John dalam pernyataan resminya.

​Ada lima poin krusial yang menjadi penekanan dalam pernyataan sikap yang ditandatangani oleh jajaran teras organisasi, yakni Ketua Umum John F. S. Pandeirot, Sekretaris Jenderal Michael M. Worang, SE., Bendahara Umum Winsy H. Lolowang, SH., dan Panglima Besar Stefan Obadja Voges, SH., MH.

​5 Poin Pernyataan Sikap LSM Adat Waraney Puser In’Tana:

  • ​Menjaga Kesucian Falsafah Sitou Timou Tumou Tou: Menyambut baik syiar yang menyejukkan, namun menolak narasi yang memecah belah atau intoleran.
  • ​Menolak Dakwah Intoleran dan Provokatif: Meminta dengan tegas kepada panitia penyelenggara dan secara khusus kepada UAS agar menjaga lisan, menghormati keberagaman lokal, serta tidak menyisipkan materi yang bersifat provokatif atau radikal.
  • ​Komitmen Terhadap NKRI dan Pancasila: Menegaskan Pancasila dan NKRI adalah harga mati. Sulawesi Utara adalah laboratorium kerukunan yang tidak memberikan ruang bagi ideologi yang merongrong pilar kebangsaan.
  • ​Desakan kepada Aparat Keamanan dan Pemda: Mendesak Pemkot Kotamobagu, Polres Kotamobagu, Polda Sulut, dan TNI untuk melakukan pengawasan ketat. Mereka juga meminta aparat mengambil tindakan hukum tegas atau menghentikan acara seketika jika ditemukan adanya ujaran kebencian (hate speech) atau penistaan agama.
  • ​Imbauan kepada Masyarakat: Mengimbau seluruh elemen masyarakat adat, ormas keagamaan, dan pemuda di Sulut untuk tetap tenang, menjaga kondusivitas, tidak terprovokasi, namun tetap waspada.

​Di akhir pernyataan, DPB LSM Adat Waraney Puser In’Tana mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersinergi menjaga kedamaian tanah leluhur.

​”Mari kita jaga Kotamobagu dan Sulawesi Utara tetap aman, rukun, dan damai. Adat menjaga kita, dan kita menjaga kedamaian di atas tanah ini,” pungkas rilis tersebut.

​Hingga berita ini diturunkan, situasi di Kotamobagu terpantau tetap aman dan kondusif menjelang kedatangan sang dai. (**/fds)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *