Abadipost.com, MINAHASA, SULUT – Program unggulan Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk membangun Sekolah Unggulan SMA Nusantara di Langowan Barat, Minahasa, Sulawesi Utara, kini berada di ujung tanduk. Proyek vital bernilai ratusan miliaran rupiah ini dilaporkan terancam molor karena minimnya progres fisik di lapangan, sementara masa kontrak kerja semakin menipis.

​Hasil investigasi per 26 November 2025 menunjukkan bahwa meskipun kontrak telah berjalan lebih dari satu bulan, lokasi proyek yang seharusnya menjadi simbol kemajuan pendidikan ini masih didominasi oleh tanah kosong.

​Minim Progres, Sisa Kontrak Hanya Dua Bulan

​Proyek pembangunan SMA Nusantara ini memiliki periode kontrak yang sangat singkat, yakni mulai 25 Oktober 2025 hingga 20 Januari 2026.

​Dengan waktu yang tersisa hanya sekitar dua bulan, temuan di lokasi pengerjaan oleh subkontraktor seperti PT. Pulau Intan, PT. Gerbang Bumi Timbang, PT. Nas Jalil Gemilang, dan Pandawa Muda Berkarya, belum memperlihatkan satu pun bangunan gedung yang berdiri. Progres fisik sejauh ini dilaporkan baru sebatas pemasangan tiang-tiang dasar. Situasi ini memicu kekhawatiran besar bahwa target penyelesaian proyek akan gagal tercapai tepat waktu.

​Isu Kesejahteraan, Pembayaran Tersendat, dan Kerusakan Infrastruktur

​Selain masalah progres, investigasi juga mengungkap sejumlah isu serius yang melanda proyek ini:

​Pembayaran Tersendat: Beberapa kontraktor dan penyedia sewa alat mengeluh belum menerima pembayaran atas upah kerja dan sewa peralatan mereka.

​Kesejahteraan Pekerja: Mencuatnya laporan bahwa ada pekerja yang harus bekerja 1×24 jam tetapi dikabarkan hanya diberi makan satu kali sehari.

​Kerusakan Jalan Kampung: Warga lokal mengeluhkan kerusakan parah pada jalan desa akibat sering dilewati kendaraan berat proyek.

​Kekecewaan Warga Lokal: Janji Pemberdayaan Tak Terwujud

​Masyarakat lokal di sekitar Langowan Barat menyuarakan kekecewaan mereka. Warga merasa pihak pelaksana proyek mengabaikan permintaan penduduk lokal terkait perbaikan infrastruktur dan penyaluran Corporate Social Responsibility (CSR).

​Kritik tajam juga ditujukan kepada PT. Pulau Intan, pemenang tender utama dan pengelola anggaran terbesar. Warga Minahasa dan Langowan sangat kecewa karena nyaris tidak ada pengusaha atau pekerja lokal Sulawesi Utara yang dilibatkan dalam proyek tersebut.

​”Banyak masyarakat yang kecewa. Program dari Pak Presiden untuk kemajuan daerah dan dengan janji untuk memberdayakan masyarakat Sulut, khususnya Minahasa, justru yang mendapatkan pekerjaan semuanya dari Pulau Jawa, baik pekerja maupun kontraktor,” ujar salah seorang sumber.

​Masyarakat menegaskan bahwa banyak pengusaha dan kontraktor profesional di Minahasa yang berpengalaman, namun tidak satu pun dilibatkan, sehingga menimbulkan kekecewaan mendalam atas kehadiran pengusaha dari luar daerah.

​Konfirmasi Humas Proyek

​Saat dikonfirmasi, Humas proyek pembangunan SMA Taruna Nusantara, Bapak James, membenarkan adanya sejumlah permasalahan.

​”Ya, kami akui memang ada pekerja yang belum menerima pembayaran,” ujar Bapak James. Ia juga membenarkan bahwa masyarakat telah mengajukan permintaan agar jalan desa yang rusak segera diperbaiki.

​Tersendatnya pembayaran, isu kesejahteraan pekerja, dan minimnya progres fisik proyek ini dikhawatirkan akan menjadi penghalang besar bagi pemerintah pusat dalam mewujudkan Sekolah Unggulan SMA Nusantara sebagai sarana memajukan kecerdasan anak bangsa di Sulawesi Utara.

Loading